Breaking News

Pancasila di Jempol Kita: Saat Sila Kedua Diuji oleh Komentar Netizen



Oleh  : Istiqomah

Prodi : Ilmu Hukum Unpam Serang

Matkul : Pendidikan Pancasila

Dosen pengampu : Ibu Siti Maspupah S.H., M.H.


OPINI - Pernah enggak sih kalian lagi asyik scrolling TikTok atau X (Twitter), terus nemu lapak komentar yang isinya caci maki, cyberbullying, atau debat kusir yang enggak ada ujungnya? Rasanya kok "panas" banget ya dunia digital kita. Fenomena ini bikin kita mikir: di mana ya posisi Pancasila saat jempol kita lagi mengetik?

​Sering kali kita menganggap Pancasila itu cuma teks formal yang dihafal pas upacara hari Senin, atau materi berat yang bikin ngantuk di kelas Kewarganegaraan. Padahal, Pancasila itu urusan sesepele cara kita merespons postingan orang lain di media sosial.

​Ambil contoh Sila Kedua: Kemanusiaan yang Adil dan Beradab. Kata kuncinya ada di "Beradab". Di zaman sekarang, beradab itu bukan cuma soal salim sama orang tua atau bilang "permisi" pas lewat di depan orang. Beradab di era digital berarti punya empati sebelum menekan tombol send di kolom komentar. Sadar atau enggak, jempol kita punya kekuatan besar. Dia bisa bikin orang semangat, tapi juga bisa bikin mental orang lain tumbang dalam semalam.

​Begitu juga dengan Sila Ketiga: Persatuan Indonesia. Lucunya, bangsa kita ini paling cepat bersatu kalau urusannya "silaturahmi" alias menggeruduk akun luar negeri yang macam-macam sama Indonesia. Jiwa gotong royongnya langsung keluar! Tapi giliran sama sesama anak bangsa, kita gampang banget terpecah belah cuma karena beda selera musik, beda pilihan tim bola, atau beda pandangan politik.

​Pancasila itu sebetulnya vibe-nya ramah dan merangkul. Dia bukan hiasan dinding, melainkan "filter" di kepala kita. Sebelum jempol kita mengetik komentar jahat atau menyebarkan hoaks yang bisa memecah belah, coba deh di-filter dulu pakai nilai-nilai Pancasila.

​Menjadi Indonesia yang seutuhnya di tahun 2026 ini bukan berarti kita harus kaku dan sok serius. Cukup jadi netizen yang punya attitude, tahu batasan, dan tetap memanusiakan manusia lain, bahkan di balik layar gawai yang anonim sekalipun. Karena pada akhirnya, keragaman Indonesia itu indah kalau dirawat dengan kepala dingin dan jempol yang "beradab".

© Copyright 2022 - ABAH SULTAN